This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Selasa, 31 Mei 2016

TIPS MELEJITKAN KECERDASAN SPIRITUAL ANAK


  1. Mendidik anak untuk mencari teman yang baik
  2. Memperhaitkan kegiatan anak
  3. Kejujuran, tidak munafik
  4. Mendidik anak agar untuk rajin membaca bacaan yang bermutu
  5. Menajaga diri dari hal-hal yang merusak jiwa dan akal
  6. Rajin berdoa
  7. Mengajari anak bersyukur kepad Allah SWT karena hakikatnya syukur itu untuk diri sendiri
  8. Mengajari anak menjauhi syirik karena itu adalah kezaliman besar
  9. Mengajari anak menghormati ibunya yang telah mengandung dengan susah payah, lemah, dan bertambah-tambah selama 9 bulan.
  10. Mengajari anak menghomarti kedua orang tua
  11. Mengajari anak untuk menolak perintah orangtua yang salah dengan cara yang bijak
  12. Mengajari anak untuk menjauhi sikap sombong, angkuh, meremehkan orang lain, memalingkan muka, memandang rendah orang lain, dan tidak mau bertegur sapa.
  13. Mengajari anak sifat kesederhanaan, tampil dengan wajar tidak membuat resah orang lain, tidka menyebabkan orang lain sakit hati
  14. Menjaga keharmonisan keluarga
  15. Memberikan teladan kesalahan
  16. Mengajari anak mengenali dan menguasai problematika zaman
  17. Memberikan apresiasi yang pantas buat anak
  18. Merisaukan keselamatan mereka
  19. Mengajarkan kepada anak-anak bahwa hidup dan kehidupan ini saling berhubungan
  20. Menjadilah orang tua sebagai pendengar yang baik bagi anak-anaknya
  21. Mengajarkan anak-anak untuk menggunakan kata dan ungkapan yang bagus, indah, dan mendorong imajinasi
  22. Mendorong anak-anak untk berimajinasi tentang masa depannya dan tentang kehidupan
  23. Menemukan dan merayakan kejadian-kejadian menarik dan menyenangkan yang terjadi setiap hari atau minggu.
  24. Memberikan ruang kepada anak untuk berkreasi, menentuakn program dan jadwal kegiatan.
  25. Menjadi cermin positif bagi anak-anak
  26. Sekali-sekali menciptakan suasana yang benar-benar santai, melepaskan semua ketegangan dan kepenatan fisik maupun psikis.
  27. Setiap hari adalah istimewa, yang wajib dihayati dan disyukuri.
  28. Orangtua atau guru yang bermaksud mengembangkan kecerdasan spiritual anak haruslah seseorang yang sudah mengalami kesadaran spiritual juga
  29. Merumuskan msii hidup
  30. Membaca kitab suci al qur’an
  31. Menceritakan kisah-kisah yang menggugah semangat keimanan mereka
  32. Melibatkan anak dalam ibadah dan kegiatan-kegiatan keagamaan
  33. Memberikan kepada anak-anak kita makna batiniah dari setiap ibadah yang kita lakukan
  34. Membawa anak untuk menikmati keindahan alam
  35. Mengikut-sertakan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial
  36. Mendidik anak untuk menumbuhkan rasa cinta
  37. Cinta merupakan kebutuhan paling penting bagi anak
  38. Mendidik anak untuk menerima apa adanya
  39. Membiasakn mengambil, memberi, makan, dan minum dengan tangan kanan.
  40. Membiasakan mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian
  41. Dilarang tidur tertelungkup dan dibiasakan tidur dengan posisi badan miring ke kanan
  42. Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya
  43. Dibiasakan membaca basmalla ketika hendak makan, atau membaca doa ketika mengerjakan pekerjaan apapun
  44. Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat dan tidak memulai makan sebelum orang lain
  45. Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan
  46. Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik
  47. Dibiasakan makan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada
  48. Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya, sanak familinya yang masih kecil
  49. Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadah dan mengulanginya berkali-kali setiap hari
  50. Dibiasakan membaca alhamdulilllah jika bersin, dan mengatakan yarhamukallah kepada orang yang bersin jika membaca Alhamdulillah
  51. Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap dan jangan sampai bersuara
  52. Dibiasakan berterima kasih jika mendapat  suatu kebaikan sekalipun hanya sedikit
  53. Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua darinya dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka
  54. Tidak membuang sampah di jalanan bahkan ajarilah anak untuk bisa memperingati teman-temannya
  55. Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan assalaualaikum serta membalas salam orang-orang yang mengucapkannya
  56. Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik dan lemah lembut
  57. Dibiasakan menuruti perintah orang tua atau siapa saja yang lebih besar darinya, jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan
  58. Hendaknya kedua orang tua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi larangan
  59. Dibiasakan menghormati milik orang lain.



Diringkas dari buku Mendidik SQ Anak menurut Nabi Muhammad SAW 

MENGENALKAN KECERDASAN SPIRITUAL KEPADA ANAK

Sudah tertanam anggapan umum pada masyarakat bahwa anak yang cerdas adalah anak yang memiliki kemampuan nilai eksakta yang bagus, dan sebaliknya. Anak cerdas adalah anak yang bisa diterima di jurusan IPA bukan IPS atau Bahasa. Wajar jika sebagian besar orang tua cemas bila anaknya kurang pandai dalam matematika, fisika, atau pelajaran lainnya. Dan anak pun merasa malu dan rendah hati terhadap teman-teman dan lingkungannya ketika jurusan mereka bukan jurusan IPA tapi IPS atau Bahasa. Mereka merasa dinomor-duakan dalam berinteraksi baik oleh guru, teman, bahkan orang tuanya.

Kecerdasan spiritual diartikan sebagai kecerdasaan manusia dalam member makna. Dalam kondisi yang sangat buruk dan tidak diharapkan, kecerdasan spiritual mampu menuntun manusia untuk menemukan makna. Manusia dapat memberikan makna dari berbagai hal, agama mengarahkan manusia untuk mencari makna dengan pandangan yang lebih jauh. Bermakna di hadapan Tuhan. Inilah makna sejati yang diarahkan oleh agama, karena sumber makna selain Tuhan tidaklah kekal.



Cara orang tua dan guru mengenalkan kecerdasan spiritual menurut Prof. DR. KH. Jalaluddin Rakhmat dapat dilakukan dengan memberikan 10 kiat mengembangkan kecerdasan spiritual.

Pertama,
Sebagai orang tua dan guru, kita harus memberikan pemahaman kepada anak akan arti dan makna akan segala hal yang dialami anak. Kita harus ingat bahwa anak adalah penyontoh atau peniru yang baik. Apapun yang terlihat dan terdengar oleh anak akan dengan mudah ditirukan oleh si anak.

Kedua,
Kita harus membantu anak untuk merumuskan misi hidupnya sebagai anak yang sholih dan sholihah. Menurut Dr. M. Quraish Shihab, yang dimaksud sholih dan sholihah adalah; Pertama, menjadi manusia yang sesuai dengan tujuan penciptaannya yaitu untuk mengabdikan diri, menghambakan diri kepada sang Khaliq Allah SWT. Kedua, menjadi khalifah di muka bumi yang membawa risalah kebenaran yang sesuai amar ma’ruf nahi munkar.

Ketiga,
Membaca kitab suci bersama-sama dan menjelaskan maknanya dalam kehidupan. Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa semenjak dalam kandungan pun anak sudah bisa merasakan akan kehadiran sesuatu di luar dirinya dan anak sudah dapat mendengar. Oleh karena itu, orang tua harus sesering mungkin untuk memperdengarkan bacaan-bacaan yang bermanfaat bagi anak, terutama membaca al qur’an.

Keempat,
Menceritakan kisah-kisah agung dari tokoh-tokoh spiritual. Anak-anak sangat menyukai sifat-sifat “heroik” dan kepahlawanan dari diri orang lain. Maka dari itu akan sangat baik untuk menceritakan kisah-kisah yang penuh semangat dan inspiratif dari para pahlawan agama seperti kisah para rasul dan sahabat.

Kelima,
Menceritakan berbagai persoalan dari segala perspektif. Mengajak anak berdiskusi dari dini merupakan langkah awal yang baik untuk merangsang pola piker anak. Mereka akan terbiasa dengan segala persoalan dan bagaimana cara pemecahannya.

Keenam,
Melibatkan anak-anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan. Ritual-ritual keagaaman adalah rangkaian yang harus diperkenalkan oleh orang tua kepada anak, kendatipun semua hanya ritual dan kegiatan-kegiatan keagamaan tetapi orang tua harus memberikan pemahaman dan pemaknaan akan ritual tersebut, agar anak tidak merasa semua itu hanya sebatas kebiasaan saja.

Ketujuh,
Membacakn puisi-puisi atau lagu-lagu yang spiritualis dan inspirasional. Membacakan puisi atau memperdengarkan lagu kepada anak tidak hanya untuk melengkapi pengetahuan mereka tetapi juga akan mengasah bakat-bakat seni yang mereka miliki.

Kedelapan,
Membawa anak untuk menikmati keindahan alam yang dapat dijadikan untuk pengenalan benda, warna, dan seni kepada anak, dan tidak akalah pentingnya adalah memperkenalkan kebesaran Tuahn akan keindahan ciptaan-Nya.

Kesembilan,
Membawa anak ke tempat-tempat orang yang menderita. Ini adalah satu cara untuk mengajarkan kepada anak untuk bersyukur atas nikmat dan kesempurnaan yang telah diterimanya.

Kesepuluh,

Mengikutsertakan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial. Hal ini tidak jauh beda dengan hal di atas, mengajarkan anak bersukur dan memupuk semangat kebersamaan anak dengan nilai-nilai sosial, bagaimana anak terbiasa berbagai dengan sesama, peduli dengan orang lain, dan lingkungannya.

Diringkas dari buku Mendidik SQ Anak menurut Nabi Muhammad SAW 

PRINSIP PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

Masa usia sekolah dasar adalah masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam hingga kira-kira usia sebelas atau dua belas tahun. Sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah dasar yang suka bermain, memiliki rasa ingin tahu yang besar, mudah terpengaruh oleh lingkungan, dan gemar membentuk kelompok sebaya. Oleh karena itu, pembelajaran di sekolah dasar diusahakan untuk terciptanya suasana yang kondusif dan menyenangkan. Untuk itu, guru-guru perlu memperhatikan beberapa prinsip pembelajaran yang diperlukan agar tercipta suasana yang kondusif dan menyenangkan tersebut, yaitu: prinsip motivasi, latar belakang, pemusatan perhatian, keterpaduan, pemecahan masalah, menemukan, belajar sambil bekerja, belajar sambil bermain, perbedaan individu, dan hubungan sosial.



Beberapa prinsip pembelajaran tersebut dapat diuraikan secara singkat, sebagai berikut:

Prinsip motivasi,
Adalah upaya guru untuk menumbuhkan dorongan belajar, baik dari dalam diri anak atau dari luar diri anak sehingga anak belajar seoptimal mungkin sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Prinsip latar belakang,
Adalah upaya guru dalam proses belajar mengajar memerhatikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah dimiliki anak agar tidak terjadi pengulangan yang membosankan.

Prinsip pemusatan perhatian,
Adalah usaha untuk memusatkan perhatian anak dengan jalan mengajukan masalah yang hendak dipecahkan lebih terarah untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai.

Prinsip keterpaduan,
Merupakan hal yang penting dalam pembelajaran. Oleh karena itu, guru dalam menyampaikan materi hendaknya mengaitkan suatu pokok bahasan lain, atau subpokok bahasan dengan subpokok bahasan lain agar anaik mendapat gambaran keterpaduan dalam proses perolehan hasil belajar.

Prinsip pemecahan masalah,
Adalah situasi belajar yang dihadapkan pada masalah-masalah. Hal ini dimaksudkan agar anak peka dan juga mendoorng mereka untuk mencari, memilih, dan menentukan pemecahan masalah sesuai dengan kemampuannya.

Prinsip menemukan,
Adalah kegiatan menggali potensi yang dimiliki anak untuk mencari, mengembangkan hasil perolehannya dalam bentuk fakta dan informasi. Untuk itu, proses belajar mengajar yang mengembangan potensi anak tidak akan menyebabkan kebosanan.

Prinsip belajar sambil bekerja,
Yaitu semua kegiatan yang dilakukan berdasarkan pengalaman untuk mengembangkan dan memperoleh pengalaman baru. Pengalaman belajar yang diperoleh melalui bekerja tidak mudah dilupakan oleh anak. Dengan demikian, proses belajar mengajar yang meberi kesempatan kepada anak untuk bekerja, berbuat sesuatu akan memupuk kepercayaan diri, gembira, dan puas karena kemampuannya tersalurkann dengan melihat hasil kerjanya.

Prinsip belajar sambil bermain,
Merupakan kegiatan yang dapat menimbulkan suasana menyenangkan bagi siswa dalam belajar karena dengan bermain pengetahuan, keterampilan, sikap dan daya fantasi anak berkembang. Suasana demikian akan mendorong anak aktif dalam belajar.

Prinsip perbedaan individu,
Yakni upaya guru dalam proses belajar mengajar yang memerhatikan perbedaan inndividu dari tingkat kecerdasan, sifat, dan kebiasaan atau latar belakang keluarga. Hendaknya guru tidak memperlakukan anak seolah-olah sama semua

Prinsip hubungan sosial
Adalah sosialisasi pada masa anak yang sedang tumbuh yang banyak dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Kegiatan belajar hendaknya dilakukan secara berkelompok untuk emlatih anak menciptakan suasana kerja sama dan saling menghargai satu sama lainnya.


Memerhatikan dan menerapkan prinsip-prinsip pembelajara di atas sangat mendesak untuk dilakukan oleh setiap guru yang melakukan proses pembelajaran di sekolah dasar. Tanpa itu, pembelajaran hanya mampu menyentuh aspek ingatan dan pemahaman saja. Karena guru yang masih cenderung mendominasi pengajaran, merupakan salah satu penyebab rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa. Hasil belajar optimal harus dicapai oleh siswa karena untuk saat ini hasil belajar dijadikan patokan keberhasilan siswa serta dijadikan tolak ukur tercapai tidaknya tujuan pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar.

Diringkas dari buku TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN 
Karya Drs. Ahmad Susanto, M.Pd

PERAN GURU DALAM PEMBELAJARAN

Mengingat pentingnya pendidikan dasar sebagai tonggak awal peningkatan SDM, banyak pihak menaruh perhatian bahwa pendidikan dasar adalah jembatan bagi upaya peningkatan pengembangan SDM bangsa untuk dapat berkompetensi dalam skala regional dan internasional. Di samping itu, juga sekolah dasar merupakan landasan bagi pendidikan selanjutnya. Mutu pendidikan menengah dan pendidikan tinggi tergantung kepada dasar kemampuan dan keterampilan yang dikembangkan sejak tingkat sekolah dasar. Mutu pendidikan yang baik di tingkat sekolah dasar akan menghasilkan di tingkat secara sistematik mutu pendidikan pada jenjang pendidikan selanjutnya. Oleh karena itu, pada tingkat sekolah dasar sangat memungkinkan untuk dikembangkan usaha dalam perubahan mutu pendidikan, hal ini dilakukan melalui penataan kelembagaan, pengelolaan, dan peningkatan mutu pendidikan.

Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran. Kepiawaian dan kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai. Ada beberapa hal yang membentuk kewibawaan guru, antara lain: penguasaan materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antar-individu baik dengan siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang terkait dalam proses pendidikan seperti administrasi, kepala sekolah, dan tata usaha serta masyarakat sekitarnya, pengalaman dan ketrampilan guru itu sendiri.



Namun sayangnya sebagaimana dilaporkan oleh Solihatin Raharjo (2007), menyebutkan bahwa dalam pembelajaran sekolah dasar saat ini, guru masih menganggap siswa sebagai objek, bukan sebagao subjek dalam pembelajaran sehingga guru dalam proses pembelajaran masih mendominansi aktivitas belajar. Siswa hanya menerima informasi dari guru secara pasif. Selanjutnya, Solihatin menyebutkan kelemahan-kelemahan di lapangan, antara lain ditemukan sebagai berikut :

PENGUASAAN MATERI PELAJARAN OLEH GURU

Yang sering menjadi perhatian dan sekaligus sebagai barometer guru yang berkualitas adalah masalah penguasaan materi pelajaran oleh guru. Guru yang menguasai materi dapat memberikan kepuasan pada peserta didik dan juga memudahkan peserta didik dalam menerima penjelasan yang diberikan oleh guru. Namun sebaliknya, guru yang kurang atau tidak menguasai materi pelajaran akan menyulitkan siswa dalam menerima penjelasan yang diberikan oleh guru, karena guru memberikan penjelasan yang berbelit-belit, tidak tegas, dan kurang sistematis. Banyak penjelasan diulang-ulang atau muter-muter tidak karuan. Guru yang menguasai materi pelajaran serta dapat menyampaikan materi dengan baik dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Materi pelajaran merupakan isi atau bahan yang akan dipelajari oleh siswa harus dipersiapkan dengan baik untuk disampaikan kepada siswa. mata pelajaran harus disusun secara sistematis berdasarkan sekuensinya serta melihat garis besar program pembelajaran (GBPP) untuk mata pelajaran yang bersangkutan. Dalam proses pelaksanaan penyampaian materi harus diperhatikan sumber belajar yang menunjang terhadap pengembangan kemampuan siswa.



Oleh karena itu, dalam penyusunan atau menetapkan materi pelajaran perlu memerhatikan hal-hal berikut:
  • Materi pelajaran hendaknya sesuai dengan/menunjang tercapainya tujuan instruksional
  • Materi pelajaran hendaknya sesuai pendidikan/perkembangan siswa pada umumnya
  • Materi pelajaran hendaknya terorganisasi secara sistematik dan berkesinambungan
  • Materi pelajaran hendaknya mencakup hal-hal yang bersifat faktual dan konseptual


Berdasarkan hal itu, hendaknya materi mendukung pencapaian tujuan instruksional dalam rangka mewujudkan pendidikan yang diemban oleh sekolah yang bersangkutan. Di samping menunjang pencapaian tujuan instruksional, materi hendaknya ditetapkan dengan mempertimbangkan taraf kemampuan siswa yang bersangkutan, suatu topik yang sama dapat berbeda tingkat kedalamannya untuk tingkat kelas berbeda.

Selain itu, penyajian materi yang sistematis dan berkesinambungan penting agar antara bahan yang satu dengan bahan berikutnya ada hubungan fungsional, di mana bahan yang satu menjadi dasar untuk bahan berikutnya. Sementara dalam menentukan materi pelajaran perlu memasukkan bahan yang faktual dan sifatnya konkret dan mudah diingat, serta bahan yang sifatnya konseptual berisikan konsep-konsep abstrak.

Dengan melihat kenyataan dan tuntunan seperti di atas, menuntut guru untuk menguasai materi pelajaran dengan baik. Mustahil guru dapat merencanakan pembelajaran, memfasilitasi pembelajaran hingga pada tahap evaluasi pembelajaran jika guru tidak menguasai materi pelajaran. Sebagai perencana pengajaran, sebelum proses pengajaran guru harus menyiapkan berbagai hal yang diperlukan, seperti materi pelajaran apa yang harus disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya, dan media apa yang harus digunakan.

Oleh karena itu, untuk menjadi guru atau pendidik yang professional, menurut Raka Joni (2007), guru harus memiliki empat kompetensi dasar, yaitu: Kompetensi kepribadian, pedagogik, sosial dan professional. Seluruh kompetensi profesi yang dituntut dari seorang guru, semata-mata untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya dapat dinilai dari proses dan hasil belajar.


Penguasaan materi pelajaran oleh guru dapat meningkatkan prestasi bealajar siswa. Oleh karena itu, penting bagi setiap guru untuk terlebih dahulu memahami dan menguasai materi pelajaran dengan sempurna sebelum menyampaikannya kepada siswa. Sejauh mana guru menguasai bahan pengajaran, maka sejauh itu, atau bahkan lebih sedikit kemampuan dan hasil belajar yan dikuasai oleh siswa. Jadi dapat ditegaskan lagi di sini, bahwa kemampuan menguasai materi pelajaran oelh guru menjadi prasarat penting bagi tercapainya keberhasilan proses belajar mengajar, dan bahkan, menurut Udin S.Sa’ud (2009), kemampuan menguasai bahan pengajaran menjadi bagian integral dari proses belajar mengajar, yang tidak boleh dianggap sebagai pelengkap dari profesi guru. 

Diringkas dari buku TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN 
Karya Drs. Ahmad Susanto, M.Pd